"Jangan Perna Menyerah dan Mengalah Dengan Kebodohan dan Ketololanmu
"

Buat Mama

Oleh : Sang Kodok





“Ibunda sebuah bangsa yang KUAT dan TERHORMAT
Beliau adalah wanita-wanita yang DICINTAI dan DIMULIAKAN
Sayangi IBU-mu...



Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara...
kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
ibu...ibu....

Seperti udara...
kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
ibu...ibu

(Iwan Fals-IBU)

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

Pelajaran Membaca

Oleh : Sang Kodok





Ini Ibu Budi.
Kenapa harus si Budi?
Kenapa tidak Arif, Paijo, Paimin atau nama yang laen.
Apa karna guru kita enga kreatif atau karna dulunya guru kita diajar sama Budi atau si Budi yang buat buku pelajaran membaca atau guru-guru kita dulu juga diajarkan membaca Ini Ibu Budi...

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

40 Day’s in Europe

Oleh : Sang Kodok
















Judul:40 days in Europe
Penulis:Maulana M. Syuhada
Penerbit:Bentang
Halaman:550 halaman

40 Days in Europe merupakan sebuah judul buku yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui alat munsik tradisional ke benua eropa. Penulis buku 40 Days in Europe adalah seorang mahasiswa yang sedang melanjutkan studi master di Jerman, penulis merupakan seorang mahasiswa yang sangat mencintai budaya-budaya tradisional Indonesia. Selama melanjutkan studi di Jerman ia aktif dan sering terlibat di berbagai kegiatan seni dan budaya, hingga pada tahun 2002 ia mendirikan sebuah grup angklung dikampusnya dengan nama " Angklung-Orchester Hamburg", dalam grup angklung tersebut banyak sekali mahasiswa asing yang berasal dari bebrbagai negara yang berbeda belajar untuk memainkan dan mementaskan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut.

Membaca buku ini kita seakan ikut merasakan bagaimana perjuangan mereka, suka dan duka dalam perjalanan, serta menyadarkan dan membuat kita merasa bangga menjadi orang Indonesia dengan berbagai macam dan beranekaragamnya kekayaan budaya dan kesenian bangsa kita. Buku ini merupakan hasil rangkuman dari kisah perjalanan si penulis bersama tiga puluh lima personel sebuah grup angklung dari sekolah menegah atas di bandung (SMA 3). Atau yang biasa disebut Keluarga Paduan Angklung SMA 3 Bandung (KPA 3) yang membawa misi budaya “Expand the Sound of Angklung” atau (ESA), selama kurang lebhi 40 hari menggelilingi kota-kota di negara Eropa seperti Frankfurt, Bremen, Berlin, Brussel, Paris, Aberdeen, Brussels, Praha, dan Munchen.

Mungkin kita tidak menyangka alat musik yang terlihat begitu sederhana dan bersahaja dapat menghasilkan harmonisasi suara yang sangat indah dan dapat membuat serta menaklukan kota-kota yang mereka singgahi, mereka dapat membuat penonton terkesan dan merasa takjub ditenggah-tengah arus budaya barat yang mungkin tidak dapat dibendung lagi. Terlepas dari hasil yang membanggakan terebut tidak sedikit kendala-kendala atau problem yang dihadapi oleh mereka ditengah-tengah perjalanan seperti ketika koper besar berisi peralatan angklung yang belum sampai di bandara sementara mereka harus tampil, atau kendala sound system yang tidak memadai di panggung outdoor sementara suara angklung mudah sekali terbawa angin, dan yang paling besar adalah kendala dana, di mana tiba-tiba perusahaan yang menjadi sponsor terbesar mereka membatalkan kontraknya secara mendadak, menjadikan mereka semua harus tetap berusaha menggalang dana di setiap negara yang mereka kunjungi.

Namun, berbekal keberanian, kerja keras serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi-musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui. Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi “Expand the Sound of Angklung” ini terus menebar pesona di seantero eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli Indonesia. Semua terkesan, semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan oleh sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas sebuah bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil setelah membaca buku ini kegigihan dan keingginan yang kuat untuk mewujudkan sebuah impian, kebersamaan serta kerja sama yang memberi arti penting untuk sebuah kesuksesan, dan yang terpenting bagaimana kita bisa memaknai, menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan dan menyatukannya dengan budaya. Well, sekali lagi buku ini is a must read. Very inspiring and motivating. Menyadarkan kita bahwa impian sesulit apapun bisa terwujud selama kita mempunyai motivasi, kerja keras dan semangat tinggi. Mungkin satu-satunya kelemahan buku ini adalah halaman-halaman yang berisikan Email-email penulis dengan kenalannya dengan menggunakan bahasa inggris yang membicarakan rencana mereka. The problem is they’re written in English.

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

Potret Agama Dimata HAM

Oleh : Sang Kodok











Judul:Agama dan Hak Asasi Manusia
Penerbit:DIAN/Interfidei
Halaman:xviii+225 halaman

Agama dalam pandangan para ahli ilmu sosial merupakan suatu gejala sosial, hal ini dikarnakan ketika pemahaman dan pengetahuan yang mendalam tentang agam dikembangkan, diajarkan dan dan dilanggengkan, agama memberikan tekanan penting pada umatnya. Di dalam buku Agama dan Hak Asasi Manusia membahas hubungan antara keduanya, hal ini dimaksud untuk melihat persentuhan dan interaksi antar agama dan komunitas keagamaan. Dimana didunia ini banyak terjadi konflik kekerasan , dan agama merupakan salah satu faktor didalamnya. Pelanggaran HAM, peperangan, kekejaman dan genosida berlanjut.

Jika kita menggangap bahwa agama tidak hanya sebagai cara pandang seseorang dan suatu yang terikat erat dengan komunitas dunia pada umumnya, akan tetapi juga menyangkut emosi-emosi di dalam individu dan kelompok, maka dimensi agam dalam konflik dunia dalah suatu yang esensial. Seperti halnya kasus-kasus ang terjadi di Bosnia, Irlandis utara, Punjab, atau Libanon mengenai konflik etnik, kesenjangan ekonomi, persengketaan tanah bersejarah. Akan tetapi ketika agama menjadi suatu cantelan bagi penindasan dan symbol yang menyebabkan mereka berperang, tentunya hal ini merupakan dinamika baru yang khas untuk masa sekarang. Yaitu ketika nasionalisme dan agama bercampur, kekerasan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Buku ini dibagi dalam beberapa bab dimana masing-masing bab menjelaskan antara lain:

Didalam bab I buku ini mencoba menguak akar konflik keagamaan yang mengidentifikasi sumber-sumber agama yang disnggap menjadi akar-akar pertikaian, antara lain untuk mengalihkan kepada fungsi yang mendorong sifat saling menghormati dan toleransi sesuai dengan cita-cita yang ada di dalam instrument hak asasi manusia.

Didalam bab II buku ini mengulas militansi agama atau “fundamentalisme”. Dimana jika watak fundamentalisme dikembangkan, yang ada hanyalah kesetiaan pada imam atau pemimpin dan komunitas seiman. Sedangkan pihak lain ataupun komunitas lain diabaikan atau bahkan diijinkan untuk dihancurkan dan dimusnahkan. Jika watak fundamentalisme agama ini dikembangkan, hal ini dapat mengancam hak asasi manusia.

Sedangkan dalam bab III, buku ini mengangkat kembali isu “Universalisme versus Partikularisme” yang dalam perkembangan mutakhir sebenarnya sudah menyurut ketika hak asasi manusia dan konsep-konsep yang berkaitan dengan martabat manusia dan persamaan manusia dianggap sebagai seruan moral. Didalam bab IV, buku ini mendiskusikan sumber-sumber positif agama untuk hak asasi manusia. Dimana hasil dari diskusi adalah bahwa agama dapat secara umum memberikan sumbangannya kepada seluruh matra hak asasi manusia.

Didalam bab V buku ini membahas dialog agama dan hak asasi manusia yang menjadi inti dari buku ini. isi dari bab ini merupakan rekaman dari sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Proyek Agama dan Hak Asasi Manusia. Jika ditarik kesimpulan buku ini yang pada intinya mempunyai beberapa kesimpulan. Pertama ada data yang jelas bahwa agama merupakan akar pertikaian dan juga digunakan oleh para pemimpin politik untuk memicu pertikaian; kedua dalam tradisi semua agama yang sebenarnya mendorong perdamaian, toleransi, kebebasan berkesadaran, persamaan martabat dan individu serta keadilan sosial; dan yang ketiga bahwa ajaran moral dari tradisi agama-agama cenderung memperkuat dan mendukung nilai-nilai hak asasi manusia.

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

Ibunda

Oleh : Sang Kodok
















Judul:Ibunda
Pengarang:Maxim Gorky
Penerjemah:Pramodya Ananta Toer
Penerbit:Kayalamitra Jakarta

“Sya belajar dari Maxim Gorki yang betul-betul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semua berubah dan bergerak”. (Pramoedya Ananta Toer)

Novel yang berjudul Ibunda (Matt dalam bahasa Rusia) ditrjemahkan oleh Praoeda Ananta Toer dar karya yang monumental Maxim Gorki. Novel ini bercerita mengenai pengalaman Pelagia, janda seorang montir pabrik. Tokoh utama dalam novel ini tidak ditampilkan dalam sosok ang memiliki keindahan fisi. Badannya bongkok dan miring, wajahnya kerut marut, alisnya terbelah oleh bekas luka. Penampilanna lebhi tua dari usianya yang empat puluh, bukan dikarnakan akibat kerja yang sangat berat akan tetapi lebhi dikarnakan sepanjang pernikahannya ia hidup diantara pukulan dan caci maki suaminya. Plagia mewkili sosok perempuan yang bukan saja tercabik-cabik oleh kemiskinan akan tetapi juga terkurung oleh tatanan yang tidak menghargai perempuan. Praktek kekerasan dalam rumah tanggadigambarkan sebagai sesuatu kebiasaan yang sudah diterima sebagai kenyataan hidup.

Melalui sosok yang paling menderita, pembaca diajak oleh penulis memasuki dunia kaum buruh di kota industry di Rusia dengan latar belakang awal abad ke-20, dimana ketika benih-benih revolusi mulai muncul. Di dalam novel ini digambarkan situasi kumuh yang mewarnai kehidupan kaum buruh. Seluruh hidup kaum buruh dikendalikan oleh peluit pabrik dan digilas oleh kemiskinan, sehingga banak para buruh yang lari pada minuman-minuman keras dan menyalurkan rasa getir dan marah kepada orang yang berada pada posisi lemah. Lingkaran hidup yang berawal dengan kelelahan, kejenuhan, kemiskinan dan berakhir pada jerat alcohol dan kekerasan terus berputar karna semua itu sudah diterima sebagai suatu hal ang biasa.

Dalam alur novel ini, lingkaran kepasrahan ini pada akhirnya dipatahkan oleh seorang pemuda buruh bernama Pavel Valssov seorang anak dari Palagia Valssov. Pavel membenci sikap ayahnya yang telah dikuasai oleh alcohol, walaupun ia pada saat remaja ia sempat hanyut pada arus lingkungannya. Ia disadarkan oleh buku-buku yang ia baca, buku-buku sosialis ia berubah menjadi seorang pemuda ang secara serius mencari apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, dan memikirkan usaha untuk merubah lingkungannya.

Walaupun Pelagia bergembira bahwa anak semata wayangnya itu tidak terjerumus oleh alcohol, akan tetapi ia juga merasa sangat khawatir dan bertanya-tanya akan perubahan yang telah terjadi pada diri anaknya. Apalagi pada saat anaknya menerima tamu yang membicarakan hal-hal yang berada diluar jangkauan pikirannya. Ketika kata-kata “Sosialis” dan “Komunis” didengarnya dari percakapan itu, tubuh sang ibupun gemetar karna hal ini disebabkan dari kehidupan sang ibu yang dibesarkan dalam tatanan yang mensosialisasikan dua kata itu sebagai momok yang menakutkan. Kaum sosialis adalah penjahat dan penghianat yang melawan dan ingin membunuh Tsar.

Alur cerita kemudian menggambarkan tahap demi tahap proses perubahan bukan pada diri Pavel, melaiknkan pada diri Ibunda. Cerita ini pada intinya disampaikan dengan teknik narrator orang ketiga melalui sudut pandang (terbatas pada) tokoh sang ibu. Narrator masuk kedalam visi sang ibu yang tekun dan saleh pada agamanya. Melalui mata dan telinga sang ibulah proses menuju revolusi sosial disampaikan.perubahan pada diri ibu dari rasa kahwatir dan takut berubah menjadi pendukung setia gerakan anaknya, bahkan sampai menjadi aktifitas yang tak kalah bersemangat. Hal ini digambarkan secara realitas tahap demi tahap.

Perubahan itu bukan dating dari kesadaran pikiran, melainkan diawali kepekaan seorang ibu terhadap perasaan-perasaan positif yang dirasakan muncul pada pertemuan-pertemuan aneh yang dilakukan oleh kawan-kawan anaknya. Ia melihat bagaimana perdebatan-perdebatan yang sengit dalam rapat-rapat ang tidak pernah diakhiri oleh kekerasan, hal itu merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupanna. Kemudian ia mulai menangkap dan merasakan semangat yang begitu berkobar pada diri anaknya. Kesetiakawanan para aktifis itu kemudian dirasakan sangat kontras dengan kehidupan para buru yang tidak jauh dari kekerasan, keseweng-wenangan polisi, kelicikan para intel, kecurigaan pada tetangga dan ucapan makian dari orang-orang yang tak menginginkan perubahan.

Maka Ibunda yang buta huruf mulai tertarik untuk kembali belajar membaca, suatu hal yang tela lama ia tinggalkan semenjak menikah. Dorongan itu muncul karna sang ibu ingin mulai tergelitik untuk ingin tahu berbagai macam hal yang dibicarakan dengan penuh antusiasme oleh anaknya dan kawan-kawannya. Ia mulai membuka buku-buku tentang hewan, tumbuhan, negara-negara asing dan berbagai macam bacaan anaknya. Titik bali penting yang terjadi dalam kehidupan ibunda terjadi ketika anaknya dijebloskan ke dalam penjara karna tuduhan menyebarkan pamflet gelap dipabrik. Inisiatif ibunda untuk membantu menyebarkan pamflet dipabrik dengan cara menyembuyikan di dalam keranjang makanan jualannya muncul pertama kali demi menyelamatkan anaknya. Jika penyebaran pamflet terus berjalan berarti tuduhan terhadap anaknya batal.

Ketika usaha tersebut berhasil, dan menyebabkan keonaran di pihak penguasa dan terjadi kegairahan dikalangan buruh, ibunda merasa bangga dan merasa dirinya begitu berarti. Ketika semangat perjuangan anaknya melalui pamflet, bacaan, pertemuan dengan berbagai kalangan aktifis membuatna semakin paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan kaum revolusioner. Sang ibundapun sepenuhnya menjadi aktifis sejati. Dalam titik ini cintanya terhadap anak sematawayangnya telah mengalami trensedensi menjadi cinta bagi anak manusia.

Yang menarik dari novel ini adalah, perubahan “Idiologis” dalam diri ibunda yang tidak mengorbankan religiusitasnya yang sangat mendalam. Pelagia dapat mengaitkan faham persaudaraan kaum buruh dengan sosok yang diimaninya, yakni Kristus yang mengorbankan dirinya bagi orang kecil. Akan tetapi pada saat yang sama mata Plagia mulai terbuka untuk membedakan ajaran untuk mencintai dengan praktek-praktek kaum pendeta dan gereja yang memanfaatkan kekuasaan diatas penderitaan orang miskin. Maka Plagia tidak lagi menjadi sekedar seorang yang patuh pada ritual-ritual dan dogma agama, melainkan seorang yang menggali dasar-dasar kepercayaan dengan kritis tanpa tergoyahkan oleh kaum revolusioner sekitarnya yang umumnya tidak percaya lagi dengan Tuhan.

Novel ini tidak saja bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk menolak bersikap pasrah diri terhadap kemandekan, kemiskinan dan ketidakberdayaan. Novel ini menunjukan bahwa keberanian dan keteguhan bisa mengubah posisinya dari sekedar mahkluk yang dianggap bagian dari isi rumah belaka, menjadi seorang tokoh yang diperhitungkan dalam perubahan masyarakat. Pada saat yang sama novel ini menunjukan bahwa perjuangan untuk merubah masyarakat tidak harus dilakukan dengan kebencian, kemarahan dan kekersan.

Gerakan yang diwakili oleh Pavel dan kawan-kawan adalah sebuah gerakan yang menitik beratkan pada perubahan kesadaran melalui bacaan, diskusi , penyebaran informasi dan perlawanan tanpa kekerasan melalui pemogokan dan cara-cara lainnya. Bahkan ketika pemogokan kaum buruh dihadang dengan senjata para polisi dan tentara, Pavel meminta para demonstran untuk terus maju tanpa senjata dan perlawanan. Itulah sebabnya, Pelagia sang ibu menjadi pahlawan utama novel ini, menghayati dan mendukung perjuangan si anak sepenuhnya, sebab sesuai dengan doktrin yang dianutnya yakni doktrin kashi saying. Novel Ibunda juga menyadarkan kita pada perbedaan antara perubahan untuk kepentingan sesaat dan perubahan tatanan yang mendasar.

Sebagai karya sastra, Ibunda mewakili suatu genre novel realism sosialis, dengan kekuatan dan kelemahannya. Novel ini secara gambling dan kuat mengandung unsure-unsur propaganda, dan gayanya yang mendeskripsikan keseharian dengan penuh detail untuk menekankan kedekatan dengan kenyataan yang seringkali dipisahkan oleh benang tipis dengan idialisme cita-cita revolusi dengan romantisme perjuangan. Tetapi pesan-pesan propaganda itu dibungkus oleh kekuatan si penulis dalam menghidupkan setiap sosok tokohnya secara individual, dan oleh jiwa yang menyalah dibalik tulisannya. Intensitas Gorki kita rasakan melalui intensitas dan penjiwaan Pramoeda ananta Toer sebagi penerjemahnya.

Buku ini terbit bersama dengan menjamurnya buku-buku “Kiri” lainnya yang meledak, setelah selama 32 tahun dilarang untuk dibaca di negri ini. Akan tetapi ironisnya, disaat tatanan sosialisme komunis tidak lagi menjadi blok yang diperhitungkan. Membaca novel Ibunda mungkin membuat kita memahami mengapa tulisan-tulisan semacam ini ditakuti oleh penguasa. Tetapi lebhi dari itu, kita membaca novel yang menampilkan perempuan sebagai kekuatan perubahan itu sendiri, disaat perjuangan perempuan di Indonesia mencapai titik-titik yang menentukan.

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

Sejarah Konflik Israel-Palestina

Oleh : Sang Kodok





Timur Tengah merupakan kawasan dimana tiga agama Samawi diturunkan dan menjadikannya sebagai kawasan suci bagi umat Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal ini yang melatarbelakangi terjadinya Perang Salib dalam kurun waktu ratusan tahun.Tidak hanya perang salib, dalam era modern sekalipun konflik dikawasan Timur Tengah mashi sering bergejolak, seperti perang Iran-Irak, Irak-Kuwait, invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afganistan, dan konflik Israel-Palestina yang sudah lama berlangsung hingga samapi pada detik ini. Entah sudah berapa ratus, ribu bahkan jutaan manusia mati begitu saja, baik dari pihak Israel maupun Palestina. Meskipun sudah memakan banyak korban baik harta maupun jiwa sekalipun konflik Palestina-Israel tak kunjung usai. Bahkan lembaga Internasional sekalipun (dibaca: PBB) tak dapat menghentikan tragedi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah khususnya dalam konflik Israel-Palestina. Kedua entitas politik ini telah “bertarung” di kawasan Timur Tengah semenjak berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Meskipun memiliki catatan sejarah dalam Alkitab dan Alquran, Negara Israel belum terbentuk sampai pada tahun 1948. Semenjak kehancuran Kerajaan Israel dan penjajahan yang dilakukan oleh Romawi, Israel mengalami diaspora, dan tidak pernah memiliki pemerintahan sendiri yang berdaulat, hal ini pula yang menyebabkan penyebaran umat Yahudi di seluruh penjuru dunia, khususnya di Eropa. Umat Yahudi berasimilasi dengan masyarakat di sekitarnya, namun tetap mempraktikkan ajaran-ajaran Yahudi. Pada awalnya, tidak ada gerakan nasionalisme Yahudi yang mempunyai tujuan untuk kembali ke tanah Israel, karena pada umumnya warga Yahudi diterima di wilayah dimana mereka berasimilasi. Tetapi, setelah munculnya paham anti-semit di kawasan Eropa Timur dan Tengah gerakan nasionalisme Yahudi muncul di kalangan Yahudi Eropa. Gerakan ini lazim disebut dengan Zionisme, gerakan ini lahir karena adanya diskriminasi berkepanjangan terhadap warga Yahudi di hampir seluruh wilayah Eropa, maka asimilasi bukan lagi menjadi pilihan bagi Yahudi apabila mereka ingin tetap hidup. Zionisme telah berhasil membangkitkan nasionalisme Yahudi yang berada di Eropa.

Ketika gerakan Zionisme mulai marak di kawasan Eropa, wilayah Palestina dan Israel yang kita kenal pada saat ini masih berada dibawah kekuasaan Imperium Ottoman yang selama kurang lebih 400 tahun berkuasa. Keperkasaan Imperium Ottoman di kawasan Timur Tengah berakhir karena disebabkan oleh dua hal antara lain janji yang diberikan oleh Inggris kepada bangsa Arab akan pemerintahan yang independen jika bangsa Arab mau memberontak pada Imperium Ottoman serta kekalahan Imperium Ottoman pada saat Perang Dunia I (PD I). Akan tetapi janji Inggris terhadap Arab tidak segera diwujudkan, melainkan Inggris dan Prancis membuat perjanjian dengan membagi kekuasaan atas wilayah bekas kekuasaan Imperium Ottoman. Wilayah Palestina pada saat itu tidak diserahkan kepada Negara manpun, melainkan dijadikan sebuah wilayah Internasional yang dikelola secara bersama-sama diantara Negara pemenang perang.

Pada waktu yang hampir bersamaan Inggris juga memberikan janji kepada bangsa Yahudi dengan mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Hal inilah yang menjadi landasan bagi gerakan Zionisme untuk mewujudkan visi terbentuknya negara Yahudi yang eksklusif dengan kembali ke tanah Palestina. Lahirnya janji-janji dari Inggris kepada Yahudi dan Arab telah melatarbelakangi konflik antara Arab dan Yahudi, yang didukung oleh Inggris dan merasa paling berhak untuk berada di wilayah Palestina. Dalam kurun waktu hampir 30 tahun selama pemerintahan mandat Inggris, telah terjadi beberapa konflik diantara bangsa Arab dan Yahudi yang berada di wilayah Palestina, Dalam kurun waktu ini pula, terjadi Perang Dunia II di wilayah Eropa yang telah melahirkan tragedi holocaust, sehingga semakin menguatkan niat bangsa Yahudi di Eropa untuk kembali ke tanah Palestina.

Lahirnya PBB sebagai penerus tugas dari LBB, tidak banyak membantu penyelesaian konflik yang terjadi di wilayah Palestina. PBB berinisiatif mebuat sebuah rancangan perdamaian untuk Arab dan Yahudi di Palestina dengan membuat pembagian wilayah, dimana negara Arab (45%) dan Yahudi (55%) dari total keseluruha luas wilayah Palestina. Dalam rancangan ini, Jerusalem tidak ditempatkan dibawah penguasaan Arab ataupun Yahudi, tetapi dijadikan sebagai sebuah wilayah internasional yang diurus oleh PBB. Adanya penolakan dari bangsa Arab yang merasa diperlakukan tidak adil melalui resolusi PBB mengenai pembagian wilayah memicu kerusuhan di Jerusalem antara Arab dengan Yahudi. Penolakan dari bangsa Arab secara otomatis telah menggagalkan perdamaian ini.

Gagalnya mandat Inggris melalui PBB di Palestina, tidak menghambat bangsa Yahudi untuk mewujudkan visi dari Zionisme. Pada hari yang bersamaan dengan berakhirnya Mandat Inggris, David Ben Gurion yang mewakili Yahudi, memproklamirkan berdirinya Negara Israel, dan hanya dalam hitungan jam Amerika Serikat memberikan pengakuaan terhadap negara Israel. Proklamasi kemerdekaan Israel ini menyulut kemarahan bangsa Arab, dan menimbulkan konflik bersenjata pertama antara bangsa Arab dengan Yahudi (Israel).

Kelahiran Israel pada 14 Mei 1948 telah memicu konflik berkepanjangan antara Arab dengan Israel. Konflik bersenjata pertama antara Arab dengan Israel atau yang dikenal dengan nama Al Nakba terjadi beberapa hari sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Israel. Dukunganpun mengalir terhadap bangsa Arab yang berada di wilayah Palestina atas perlawanan terhadap Israel antara lain Irak, Yordania dan Mesir. Walaupun dukungan mengalir terhadap bangsa Arab di Palestina, Israel dapat memenangkan perang pertamanya sejak berdiri sebagai sebuah negara. Pertempuran pertama antar kedua etnis ini berlangsung sekita kurang lebhi satu tahun dan berakhir dengan sebuah perjanjian perdamaian antara Israel dengan negara-negara Arab disekitarnya pada bulan Juli 1949. Dengan adanya perjanjian maka eksistensi Israel sebagai negara ditegaskan dengan diterimanya sebagai anggota PBB.

Setelah konflik berakhir pada tahun 1949, Israel juga telah menyerang negara-negara Arab pada tahun 1967. Israel melancarkan serangan pertamanya ke Mesir, yang dikhususkan ke pangkalan udara militer yang menjadi basis kekuatan Mesir dan melanjukatn seranganna kepada Yordania, Suriah, dan Lebanon. Perang yang dikenal juga dengan Six Days War ini kembali dimenangkan oleh Israel, dan tidak hanya itu, Israel berhasil merebut wilayah Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, Jerusalem Timur dan Tepi Barat dari Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Secara hitung-hitungan melalui kekuatan militer, aliansi kekuatan militer negara-negara Arab jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Namun Israel berhasil memenangkan peperangan dan berhasil mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kekalahan negara-negara Arab dalam Six Days War tidak membuat konflik antara Arab dengan Israel berakhir. Pada tahun 1973, tepat sebelum peringatan hari Yom Kippur oleh Yahudi, kembali terjadi konflik bersenjata antara Arab dengan Israel. Yom Kippur War menjadi puncak konflik bersenjata antara Arab dan Israel. Dalam perang ini, Bangsa Arab berhasil membalas kekalahannya dari Israel. Serbuan negara-negara Arab berhasil melumpuhkan Israel, meski Israel tidak dikalahkan secara telak. Perang ini berhasil memaksa Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai dan Gaza kepada Mesir melalui sebuah perjanjian perdamaian pada tahun 1979.

Kehadiran Palestine Liberation Organization (PLO) yang dibentuk pada tahun 1964 oleh Liga Arab sebagai representasi resmi bagi rakyat Palestina telah membuat perjuangan Palestina semakin terkontrol, dan memudahkan Palestina untuk ikut serta dalam konferensi-konferensi internasional hal itu dikarenakan status PLO sebagai gerakan pembebasan nasional yang diakui sebagai salah satu subyek hukum internasional. Meski telah memiliki organisasi yang resmi, masyarakat Palestina di tataran akar rumput tetap melancarkan perjuangannya secara otonom yang dikenal dengan “Intifada”. Salah satu ciri khas Intifada di Palestina adalah pelemparan batu yang dilakukan oleh rakyat Palestina terhadap angkatan bersenjata Israel. Lahirnya Intifada di Palestina telah menginspirasi beberapa pemimpin Palestina untuk memproklamasikan berdirinya negara Palestina pada tahun 1988. Semenjak tahun 1988, istilah “Palestina” untuk menggambarkan sebuah negara mulai dikenal. Meski pada tahun-tahun selanjutnya, PLO tetap menjadi representasi Palestina untuk berjuang di forum internasional, karena status Palestina sebagai negara belum diakui secara internasional.

Hingga detik ini konflik Israel-Palestina mashi terus berlangsung, dan kita tidak akan perna tahu sampai kapan konflik Israel-Palestina akan berakhir, kita tidak akan perna tahu berapa ratus, ribu bahkan jutaan manusia lagi yang akan jadi korban baik harta maupun nyawa akibat konflik berkepanjangan antar kedua belah pihak. Saya, anda dan seluruh masyarakat internasional berharap dan menginginkan akan terciptanya perdamaian di Timur Tengah dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan serta mengghargai segal bentuk perbedaan.

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...

Apakah Golput Haram ?

Diambil dari Buku Islam Kebangsaan Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA





Saya Tidak Akan Menyuruh Anda Golput,
Tapi Saya Menentang Pengharaman Golput, dan
Menuntut Pembubaran MUI


Didalam Undang-undang yang mengatur tentang Pemilihan Umum di Indonesia, tidak disinggung adanya Golput. Namun ketika kita mencari subtansi undang-undangnya, Golput bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Karena secara eksplisit undang-undang tidak mengharuskan bagi warga negara untuk memilih atau dipilih. Sudah menjadi suatu kelaziman bahwa yang harus dilaksanakan itu adalah kewajiban. Sedangkan hak, wewenang penuh dari yang punya hak.

Dalam Islam diskursus golput atau Pemilu secara umum jarang digagas oleh para fuqaha. Meskipun demikian, hadirnya Khulafa’ al-rasyidin sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah dalam aspek pemerintahan bila kita mencermati banyak indikasi-indikasi yang mencerminkan nilai-nilai yang bercorak demokratis. Dalam catatan sejarah, wafatnya Rasulullah sempat menggoncangkan umat Islam, banyak polemik yang timbul dikalangan umat Islam dan para sahabatnya mulai dari permasalahan siapa sebenarnya yang akan menggantikan kedudukan Nabi Muhammad saw, dalam sisi pemimpin pemerintahan. Karna dalam catatan sejara umat Islam Rasulullah tidak meniggalkan pesan ataupun wasiat kepada umatnya baik itu para sahabat-sahabat dekatnya sipa yang akan mengantikan Beliau setelah meniggal dunia.

Dari permasalahan diatas timbullah benih-benih fanateisme golongan. Golongan Muhajirin dan Anshar sebagai dua kekeuatan besar dalam umat muslim pada saat itu sama-sama menginginkan kursi kekhlifahan. Perdebatan dan ketegangan antara ke dua golongan tersebut tidak dapat dihindarkan ketika terjadi prosesi suksesi secara sederhana, dan akhirnya (finalnya) memunculkan nama Abu Bakar sebagai khlifah pertama bagi umat muslim dalam sisi pemimpin pemerintahan. Harus diakui bahwa terpilihnya Abu Bakar dalam konstelasi perpolitikan dunia Islam memiliki arti yang sangat monumental bagi system kenegaraan bangsa-bangsa dunia saat itu. Nilai-nilai yang diterapkan mencerminkan suatu system demokratis sekaligus menepis upayah penerapan ala monarki.

Pembaiatan yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam pada saat itu terhadap Abu Bakar, secara tidak langsung mengindikasikan legalitas kedaulatan rakyat. Sehingga meskipun belum dilaksanakan pemilu secara langsung, konsensus golongan Muhajirin dan Anshar memiliki hakekat yang tidak jauh berbeda dengan pemilihan umum. Sampai pada masa Utsman, perjalanan kekhalifahan umat Islam belum menampakan adanya golongan yang abstain atau golput. Fenomena yang berkembang baru hanya sekedar sikap-sikap oposan dari beberapa kelompok yang tidak respek terhadap sikap khalifa (fitna terhadap khalifa sampai konspirasi matinya khalifa oleh elite oposan sebagai bukti konkrit yang sudah mencapai titik kulminasi).

Indikasi adanya golongan yang abstain atau golput baru muncul pada priode khalifa Ali bin Abi Thalib. Dimana pemicunya berawal dari Siti Aisyah yang mendukung secara fisik untuk melawan dan menampakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Ali. Pertumpahan darah dikalangan umat muslim tidak dapat dihindari. Ketika perselisihan semakin memanas, muncul satu kelompok yang dimotori oleh Abdullah ibn Umar yang memilih sikap abstain atau diam. Kelompok tersebut membentuk poros tengah dengan tidak ikut serta dalam pertempuran, baik untuk membela Khalifa Ali maupun menyokong gerakan Siti Aisyah.

Performance Abdullah dalam banyak hal bisa dikatagorikan sebagai sikap golput, mereka merasa tidak terwakili sama sekali oleh kedua kubu yang bertikai. Dalam posisi yang serba sulit tersebut sampai-sampai Abdullah ibn Umar memberikan statement politik, “Demi Allah, Kami tidak mengerti apa yang harus kami lakukan. Persoalannya benar-benar dilemma bagi kami. Karenanya kami bersikap diam saja.”

Sikap golput dalam Islam juga merembet ke dalam sisi theology. Ditengah-tengah pertentangan antar berbagai aliran (madzhab) yang ekstrim seperti Khawarij yang begitu dengan mudahnya mengkafirkan orang mukmin yang berbuat dosa besar, Syiah yang mengklim dirinya paling berhak atas kursi kekhalifahan, Ahlussunnah wal jamaah yang memandang orang mukmin yang berbuat dosa besar mashi tetap dalam bingkai mukmin, bahkan dalam era demokrasi di Indonesia MUI dengan berbagai macam fatwanya akan mengeluarkan fatwa bahwa golput haram hukumnya. Terlepas dari hal tersebut muncul satu kelompok pemikiran yang bersifat abstain yakni kelompok yang menamakan Murji’ah suatu kelompok yang tidak memberikan sikap pasti terhadap penerjang dosa besar (mukmin atau kafir ?) dengan alasan permasalahan ini sebenarnya sudah masuk dalam otoritas ketuhanan, yang artinya menuggu keputusan di akhirat yang akan dihakimi Allah swt.

Sebagai upayah untuk menegakkan kedaulatan rakyat, pemilihan umum merupakan suatu keharusan bagi kontinuitas pemerintah yang konstitusional sebagai pengatur rakyat. Meski demikian secara privacy hak pilih warga negara tidak bias diganggu gugat. Saya, anda, kami dan kita semua bisa menyalurkan hak tersebut sesuai dengan hati nurani sebagai manivestasi dari kedaulatan rakyat. Tidaklah dibenarkan adanya upayah-upayah pemaksaan kehendak untuk menyalurkan pilihan ataupun sikap golput kepada kita. Sebaliknya, seseorang juga berhak sepenuhnya untuk memilih sala satu yang representative baginya ataupun bersifat golput. Golput merupakan pilihan seseorang warga negara dalam era demokrasi.

Bacanya Diselesaikan ya......

[+/-] Selengkapnya...